Al Fithrah, malam 27 Ramadhan 1437 H., majlis yang sama yang istiqomah dilaksanakan sejak beliau – Hadrotusy Syaikh KH. Achmad Asrori Al Ishaqy ra. –  masih sugeng kembali diselenggarakan. Sejak kapundutnya beliau di tahun 2009 hingga sekarang, volume kedatangan jama’ah di majlis penyambutan ‘lailatul qodar’ ini terus meningkat. Jama’ah memang didominasi datang dari daratan Jawa dan Madura, namun ada beberapa rombongan dari luar pulau yang mengkonfirmasi kedatangan dalam majlis pelepasan bulan Ramadhan ini.

Ba’da jum’atan para jama’ah sudah mulai berdatangan, puncak arus kedatangan para jama’ah ba’da sholat ashar. Agar tidak terjadi percampuran antara lokasi antara jama’ah laki-laki dan perempuan, untuk meminimalisir ‘batal wudhu’’ karena sentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan, pengurus pondok dibantu teman-teman ukhsafi dan coopler community serta jama’ah Al Khidmah Surabaya, memandu para jama’ah ke tempat yang sudah di sediakan yang sudah dipisah dengan satir.

Mengingat keterbatasan persiapan tim pengairan, tindakan ini dianggap perlu untuk menghemat kuoata air yang selalu berbanding terbalik dengan jumlah jama’ah yang sebanyak itu. Sejak tanggal 25 Ramadhan, tim pengairan sudah menyiapkan beberapa toilet dan tempat wudhu darurat serta membersihkan kamar mandi pondok, agar jama’ah nyaman dalam berthaharah, dan mengikuti rangkaian acara pitulikuran dengan kondisi suci.

Sebagaimana list yang dirilis oleh pengurus pusat Thoriqoh Qadiriyah wa Naqsabandiyah Al Utsmaniyah,  acara ‘majlis pitulikuran’ ini tersusun dari istigotsah oleh habib Abdullah bin Umar al Haddar, Isthotsah oleh KH. Abdul Kholiq (Kudus), khotmil qur’an oleh santri Al Fithrah, pembacaan surat al Ikhlas oleh KH. Abdullah Said (Malang), do’a khotmil Qur’an oleh KH. Nur Slamet (Jombang), dzikir fida’ oleh KH. Munir Abdullah (Ngroto), do’a tahlil oleh KH. Najib Zamzami, qashidah Ramadhan oleh Habib Umar Assegaf, sholat tasbib oleh KH. Zainul Arif, dan do’a oleh KH. Wahdi Alawy (Al Fithrah).

Acara secara resmi baru dimulai pukul 10.00 WIS (09.30 WIB), namun kepadatan jama’ah sudah mencapai titik maksimal di halaman masjid Al Fithrah jelang maghrib. Pengurus pondok dan jama’ah al khidmah juga menyediakan buka yang disajikan dalam bentuk nasi bungkus dan talam. Untuk minum teman-teman santri juga menyiapkan beberapa titik air dingin dalam tong, terlihat juga beberapa jama’ah yang menuangkan sirup yang berapa bawa dari rumah ke dalam tong tersebut. Selanjutnya para jama’ah menunaikan shalat maghrib yang diimami oleh KH. Abdul Kafi.

Hingga jelang isya’ arus jama’ah masih padat merayap, memadati tiga lantai gedung utara dan dua lantai gedung selatan. Sebenarnya gedung selatan terdiri dari empat lantai, hanya saja yang dibuka cuma dua mengingat keterbatasan tim keamananan. Namun setelah tarawih yang diimamai oleh KH. Wahdi Alawy, gerbang lantai tiga pun di buka, melihat volume jama’ah yang tak bisa ditampung dan beberapa satgas yang bertugas di luar ditarik ke dalam.

15 menit sebelum acara dimulai, H. Ainul Huri – ketua tiga jama’ah Al Khidmah Indonesia – mengingatkan para jama’ah untuk memperbaharui wudhu’ dan menyiapkan diri untuk mengikuti rangkaian acara yang akan berlangsung. Tepat pukul 10.00 WIS Habib Abdullah membuka acara dengan serangkaian tawasul yang sudah dibimbingkan oleh hadrotusy syaikh KH. Ahmad Asrori al Ishaqy ra, dilanjut dengan rangkaian yang sudah dirilis oleh oleh pengurus pusat Thoriqoh Qadiriyah wa Naqsabandiyah Al Utsmaniyah.

Setelah Qashidah melepas bulan Ramadhan yang dibawakan oleh habib Umar Assegaf, pak Inul mengingatkan lagi pada para jama’ah untuk mengambil wudhu’ dan merapikan shaf sebelum shalat malam dilaksanakan. Kurang lebih 10 menit sampai lampu kembali dipadamkan, dan shalat malam pun dilangsungkan.

Pukul 00.10 WIB majlis pitulikuran resmi selesai, dan para jama’ah melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing, ada beberapa jama’ah yang beristirahat di masjid lantaran transportasi menuju rumahnya baru tersedia keesokan harinya.

Jama’ah pulang tim kebersihan pun tandang, terlalu banyak kenangan yang ditinggalkan para jama’ah, berupa sampah makanan beserta bungkusnya serta alas duduk. Padahal, seperti haul akbar kemarin, tim kebersihan sudah menyediakan banyak tong sampah. Mungkin karena buru-buru pulang sehingga para jama’ah tidak sempat untuk meletakkan kumpulan sampah mereka ke tempat sampah terdekat. Hingga liputan ini selesai di tulis, alhamdulillah dibantu tim kebersihan dinas kota Surabaya, kondisi halaman masjid sudah kembali seperti semula.

Waba’du; semoga majlis pitulikuran ini tetap istiqomah dilaksanakan di tahun-tahun selanjutnya, dan apa yang sudah dibaca dan diamalkan semoga diridhoi oleh Allah. Bukan hanya sekedar mendapatkan malam Lailatul Qadar, tapi lebih dari itu, bersama Hadrotusy Syaikh ra., dan para guru-guru sampai kanjeng Syeikh Abdul Qodir al Jilany ra. hingga kanjeng Nabi Muhammad SAW, kita semua akan dikumpulkan untuk sowan, sebo, menghadap Dzat Allah Yang Maha Agung. Amin.

Komentar Facebook

comments

LEAVE A REPLY